Langsung ke isi

Latar Belakang

Sastra, selain mengandung fungsi estetis, yaitu mampu memberikan keindahan bagi penikmatnya, juga mengemban fungsi rekreatif dan didaktif. Fungsi rekreatif, yaitu ketika sastra dapat memberikan hiburan yang menyenangkan bagi penikmatnya. Sedangkan fungsi didaktif, yaitu ketika sastra mampu mengarahkan atau mendidik pembacanya karena nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, pengalaman manusia bergaul dengan karya sastra diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap perkembangan kepribadian secara menyeluruh dan positif.

*

Namun pada kenyataannya, akses terhadap kesusastraan, segala tulisan atau karangan yang mengandung nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah masih terbatas bagi kalangan mata awas. Kesediaan akses terhadap kesusastraan bagi masyarakat penderita cacat, khususnya lagi para penderita tuna netra, belum mencapai titik optimal. Pada akhirnya, keadaan ini menimbulkan dampak ganda. Tidak hanya kendala untuk mendapatkan karya sastra, melainkan juga berhilir pada sedikitnya masyarakat penderita cacat yang berkecimpung aktif dalam dunia kepenulisan.

*

Dengan melihat keprihatinan tersebut, kami dalam komunitas EnamPENA merasa perlu sebuah sarana untuk menambah akses masyarakat penyandang cacat, khususnya tunanetra, terhadap karya sastra. Selain itu, kami juga merasa perlu pengadaan sebuah kegiatan untuk menstimulus para tunanetra agar lebih berkecimpung aktif dalam dunia kepenulisan, sehingga fungsi kesusastraan mampu berlaku lebih universal, di mana dapat dinikmati para penyandang cacat dan juga tentunya masyarakat normal.

*

Untuk menjawab keprihatinan tersebut, sekaligus memperingati momentum Hari Sumpah Pemuda 2009, maka EnamPENA menyelenggarakan kegiatan “MataKataKita”. MataKataKita adalah ajang penerbitan karya dalam dua aksara, latin dan braille, hasil bersatunya penulis-penulis mata awas dan tunanetra Indonesia.

* * *

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.